Jumat, 03 Februari 2017

Diluaskan Dan Disempitkan Rezeki Dalam Berbisnis

Diluaskan Dan Disempitkan Rezeki Dalam Berbisnis
Diluaskan Dan Disempitkan Rezeki Dalam Berbisnis  dan kadang kita tidak mensyukuri hasil usaha atau bisnis kita, hasil jerih payah kita bertahun-tahun. Selalu merasa sedikit  apalagi jika dibandingkan dengan orang lain. Ini mungkin karena kita tidak memahami ketentuan Ilahi dalam hal Rezeki. Seorang yang diluaskan rezeki belum tentu Allah cinta kepadanya. Lihatlah Qorun bagaimana ia diberikan harta yang begitu melimpah sampai-sampai kunci untuk harta simpanannya harus diangkat oleh 10 orang. Namun Apakah Allah Mencintainya? Tidak!!, karena ia berbuat kufur kepada Allah. Belum tentu juga orang yang disempitkan rezeki tanda bahwa Allah menghinakannya. Lihatlah bagaimana para nabi ada diantara mereka yang hidup pas-pasan, sengsara, miskin dan sederhana, namun Allah mencintai karena mereka beriman. Renungkanlah ayat ini yaitu firman Allah yang artinya “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakannya dan diberinya kesenangan maka dia akan berkata Tuhanku telah memuliakan. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi Rizkinya maka dia berkata Tuhanku menghinakanku” (QS. Al Fajr: 15-16).

Keterangan Dari Para Ulama
Ath Thobari rahimahullah menjelaskan, Adapun manusia ketika ia diuji oleh Allah dengan diberi nikmat dan kekayaan yaitu dimuliakan dengan harta dan kemuliaan serta diberi nikmat yang melimpah, Ia pun katakan “Allah benar-benar telah memuliakanku” Ia pun bergembira dan senang lantas ia katakan, “Allah telah memuliakanku dengan karunia ini” (tafsir Ath Thobari 24/412).
Kemudian Ath Thobari rahimahullah menjelaskan, “Adapun manusia jika ia ditimpa musibah oleh rabbnya dengan disempitkan rezeki, yaitu rezekinya tidak begitu banyak, maka Ia pun katakan bahwa rabbnya telah menghinakan atau merendahkannya. Sehingga ia pun tidak bersyukur atas karunia yang Allah berikan berupa keselamatan anggota badan dan rezeki berupa nikmat sehat pada jasadnya ( Tafsir Ath Thobari 24/412 ).

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat diatas “Dalam ayat tersebut, Allah ta'ala mengingkari orang yang keliru dalam memahami maksud Allah meluaskan Rizkinya. Allah sebenarnya menjadikan hal itu sebagai ujian. Namun dia menyangka dengan luasnya rezeki tersebut itu berarti Allah memuliakannya. Sungguh tidak demikian, sebenarnya itu hanyalah ujian. Sebagaimana Allah ta'ala berfirman (yang artinya) Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang kami berikan kepada mereka itu berarti bahwa kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar. (QS al-mu'minun 55 – 56 ).

Sebaliknya jika Allah menyempitkan rezeki, ia merasa bahwa Allah menghinakannya. Sebenarnya tidak, sebagaimana yang ia sangka. Tidaklah seperti itu sama sekali. Allah memberi Rizki dan memberi kemudahan itu bisa jadi pada orang yang dia cintai atau pada yang tidak dia cintai begitu pula Allah menyempitkan rezeki pada orang yang dia cintai ataupun tidak. Sebenarnya yang jadi patokannya ketika seseorang dilapangkan dan disempitkan rezeki adalah dilihat dari ketaatannya pada Allah dalam dua keadaan tersebut. Jika ia adalah seorang yang berkecukupan lantas ia bersyukur pada Allah dengan nikmat tersebut, maka inilah yang benar. Begitu pula ketika ia serba kekurangan dan ia pun bersabar (tafsir Al Quran Al Azim 14-347).

Syukur Dan Bersabar Dalam Hidup Di Dunia
Pahamilah, tidak perlu merasa iri hati dengan rezeki orang lain. Kita dilapangkan Rezeki, itu adalah ujian, kita disempitkan rezeki, itu adalah ujian juga. Dilapangkan rezeki agar kita diuji apakah termasuk orang yang pandai bersyukur atau tidak.disempitkan rezeki agar kita diuji termasuk orang yang bersabar ataukah tidak. Maka tergantung kita dalam menyikapi rezeki yang Allah berikan. Tidak perlu bersedih, tidak perlu cemas, dan tidak perlu takut jika memang kita tidak ditakdirkan mendapatkan rezeki sebagaimana saudara kita, Allah tentu saja mengetahui manakah yang terbaik bagi hamba-nya cobalah pula kita perhatikan bahwa rezeki dan nikmat bukankah pada harta saja, kesehatan badan, nikmat waktu senggang, bahkan yang terbesar dari itu yaitu nikmat Hidayah Islam dan iman itupun termasuk nikmat yang patut disyukuri. Semoga ini bisa jadi renungan berharga buat kita semua.

Ya Allah karuniakanlah pada kami sebagai orang yang pandai bersyukur dan juga bersabar padamu dalam segala keadaan baik susah maupun senang.. آمِيْنُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن


Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Dapatkan Artikel Hari Ini

Arsip Blog